Sejarah singkat PENGEMBANGAN aspal alam

Juli 1, 2009

Akhir-akhir ini berkembang konsep dan aplikasi-aplikasi baru dari kegiatan teknologi dan sains, ini berawal dari kekhawatiran para ilmuwan dan masyarakat dunia akan habisnya sumber daya minyak bumi dikemudian hari. Untuk mengatasi masalah terebut para ilmuwan dan pusat litbang di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menemukan teknologi baru mengefisiensikan dan mengganti/substitusi penggunaan aspal dan unsur lain yang diperoleh dari minyak bumi. Pada perjalan penelitian ini ditemukan bahan yang banyak dialam yaitu aspal alam, karakteristik fisiknya sedikitnya mendekati aspal minyak.

Aspal merupakan suatu bahan yang tersusun dari malthane dan asphalthane, bahan ini tersedia langsung di alam, hasil penyulingan minyak bumi dan sintetis/buatan. Aspal yang tersedia langsung di alam yaitu Rock Asphalt dan Lake Asphalt, ciri-ciri fisik dari Rock Asphalt berbentuk batuan atau butir pasir adapula sebagian kecil telah ditemukan dalam fasa semi-cair, sedangkan Lake Asphalt pada ditemukannya kebanyakan mempunyai ciri-ciri berfasa semi-cair. Di Indonesia telah ditemukan banyak unsur aspal alam baik dari pulau Sumatra sampai ke pulau buton. Namun yang terkenal adalah aspal alam dari pulau buton karena mempunyai kandungan aspal lebih besar dari aspal-aspal lainnya yang telah ditemukan di Indonesia.

Eksplorasi aspal alam dari pulau buton (asbuton) pun dilakukan dengan sangat cepat dan besar, dan penelitiannya pun dilakukan dan masih berlangsung sampai sekarang. Penemuan-penemuan teknologi aspal alam yang telah dicapai saat ini baru bisa melakukan efisiensi aspal minyak sekitar 10-20%, yaitu dengan menambahkan 5-20% aspal alam ke dalam campuran sebagai bahan tambahan adiftif ke campuran aspal. Pengembangan penelitian yang lebih lanjutnya dilakukan untuk mensubstitusi aspal minyak 100% oleh aspal alam, dalam proses perjalan substitusi ini banyak terjadi hambatan dalam proses pemurnian (metode ekstraksi) bitumen aspal alam dari mineralnya, hal ini dikarenakan kandungan kalsium dan silica pada aspal alam itu sendiri jumlahnya lebih banyak dari mineralnya (± 90-70%). Aspal alam dipilih sebagai bahan adiftif atau substitusi pada campuran aspal, dikarenakan kandungan bitumennya mempunyai sifat yang lebih baik dari aspal minyak akan tetapi aspal alam itu sendiri mempunyai kelemahan mudah getas.

Penelitian yang sampai sekarang dilakukan untuk melakukan pemurnian dan peningkatan  sifat aspal alam, proses pemurnian ini sebenarnya sudah dapat dilakukan oleh semua peneliti aspal alam, namun masih adanya kendala di proses tingkat pabrik dikarenakan harga proses pemurniannya memerlukan pelarut yang harganya cukup mahal, sehingga perhitungan akhir harga satuan bitumen aspal alam nantinya akan sama atau lebih mahal dari aspal minyak.

Untuk itu dilakukan peneltian pada proses ekstraksi dengan pelarut alternative tanpa kandungan unsure klor dan penambahan zat untuk memperbaiki sifat aspal alam itu sendiri, dan pelarut serta unsure tambahannya itu tersedia dalam bentuk banyak di alam degan harga yang relative murah.

Di amerika penelitian tentang aspal alam ini terus berlangsung oleh semua kalangan akademisi maupun peneliti, dikarenakan bahan ini merupakan alternative selain beton, dan jumlahnya melimpah di alam. Pemurnian pertama kali dilakukan oleh para peneliti di amerika yang hasilnya mendekati pelarut yang mengandung klor, pelarut ini adalah  THF (Tetra Hidro Fluoro) zat ini terkandung pada bonggol jagung, Limonene zat ini terkandung pada kulit jeruk, Terpene terkandung pada pohon pinus, dll.

Itu  semua pelarut alternative yang diteliti dan paling mendekati hasilnya akan tetapi pelarut itu sangat susah didapat dan mahal, dikarenakan belum banyak pabrik yang membuat bahan tersebut, karena pengusaha yang terlibat didalamnya berpikir tidak menguntungkan bila membuat zat tersebut secara besar-besaran.

Harapan penggunaan aspal alam secara sempurna pada campuran aspal segera dapat dilakukan, karena hal ini dapat menjadi effisiensi alternative pada penggunaan aspal minyak bumi dan dapat menjadi sumber daya terbarukan di Indonesia umumnya dan pulau buton khususnya.


SNI 03-6828-2002

Juli 6, 2009

Nomor SNI : SNI 03-6828-2002

Judul :
Metode pengujian pengendapan aspal emulsi

ICS :
1. 93.080.20 Perkerasan jalan

SNI HS :
1. 2714.90.00.00 Bitumen dan aspal, alam; shale mengandung bitumen atau minyak dan pasir ter; asphaltite dan batu karang mengandung aspal. \ -Lain-lain


SNI 06-6721-2002

Juli 6, 2009

Nomor SNI : SNI 06-6721-2002

Judul :
Metode pengujian kekentalan aspal cair dan aspal emulsi dengan alat saybolt

ICS :
1. 93.080.20 Perkerasan jalan

Acuan Normatif non SNI :
1. .  AASHTO T 72-90 Standard Method of Test for Saybolt Viscosity

SNI HS :
1. 2715.00.00.00 Campuran mengandung bitumen berasal dari aspal alam, dari bitumen alam, dari bitumen petroleum, dari ter mineral atau dari pek ter mineral (misalnya, mastic mengandung bitumen, cut-back).


SNI 03-3642-1994

Juli 6, 2009

Nomor SNI : SNI 03-3642-1994

Judul :
Metode pengujian kadar residu aspal emulsi dengan penyulingan

Abstraksi :
Persyaratan pengujian dan ketentuan aspal emulsi. Peralatan : rangkaian alat penyulingan . Benda uji ditimbang seberat lebih kurang 200 gram. Penyulingan dilakukan pada pemanasan yang tidak terlalu besar.

ICS :
1. 75.140 Lilin, bahan bitumen dan produk minyak bumi lainnya

SNI HS :
1. 2714 Bitumen dan aspal, alam; shale mengandung bitumen atau minyak dan pasir ter; asphaltite dan batu karang mengandung aspal.